Betapa tak ’kan sedih aku, bagai malam,
tanpa hari-Nya serta keindahan
wajah hari terang-Nya?
Rasa pahit-Nya terasa manis bagi jiwaku
semoga hatiku menjadi korban bagi
Kekasih yang membuat pilu hatiku!
Aku sedih dan tersiksa karena Cinta
demi kebahagiaan Rajaku yang tiada
bandingnya.
Titik air mata demi Dia adalah mutiara,
meski orang menyangka sekedar air mata.
Kukeluhkan jiwa dari jiwaku,
namun sebenarnya aku tidak mengeluh: aku cuma
berkisah.
Hatiku bilang teriksa oleh-Nya,
Perlakukanlah aku dengan benar, Ohh Yang Maha Benar, Ohh Engkaulah Mimbar Agung,
dan akulah ambang pintu-Mu!
Di manakah sebenarnya ambang pintu dan mimbar itu?
Di manakah sang Kekasih, di
manakah “kita” dan “aku”?
Ohh Engkau, Jiwa yang bebas dari “kita” dan “aku”, Ohh Engkaulah hakekat ruh lelaki
dan wanita.
Ketika lelaki dan wanita menjadi satu,
Engkau-lah Yang Satu itu; ketika
bagian-bagian musnah, Engkau-lah Kesatuan itu.
Engkau ciptakan ”aku” dan ”kita” supaya memainkan puji-pujian bersama diri-Mu,
Hingga seluruh ”aku” dan ”engkau” dapat menjadi satu jiwa serta akhirnya lebur
dalam sang Kekasih.
^Jalaludin Rumi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar