Rabu, 14 Januari 2015

CIinta Dalam Ketiadaan

Betapa tak ’kan sedih aku, bagai malam, 
tanpa hari-Nya serta keindahan wajah hari terang-Nya?
Rasa pahit-Nya terasa manis bagi jiwaku

semoga hatiku menjadi korban bagi Kekasih yang membuat pilu hatiku!
Aku sedih dan tersiksa karena Cinta 

demi kebahagiaan Rajaku yang tiada bandingnya.
Titik air mata demi Dia adalah mutiara, 

meski orang menyangka sekedar air mata.
Kukeluhkan jiwa dari jiwaku, 

namun sebenarnya aku tidak mengeluh: aku cuma berkisah.
Hatiku bilang teriksa oleh-Nya, 

Perlakukanlah aku dengan benar, Ohh  Yang Maha Benar, Ohh Engkaulah Mimbar Agung, 
dan akulah ambang pintu-Mu!
Di manakah sebenarnya ambang pintu dan mimbar itu? 

Di manakah sang Kekasih, di manakah “kita” dan “aku”?
Ohh Engkau, Jiwa yang bebas dari “kita” dan “aku”, Ohh Engkaulah hakekat ruh lelaki dan wanita.
Ketika lelaki dan wanita menjadi satu, 

Engkau-lah Yang Satu itu; ketika bagian-bagian musnah, Engkau-lah Kesatuan itu.
Engkau ciptakan ”aku” dan ”kita” supaya memainkan puji-pujian bersama diri-Mu,
Hingga seluruh ”aku” dan ”engkau” dapat menjadi satu jiwa serta akhirnya lebur dalam sang Kekasih.

^Jalaludin Rumi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar